ESENSI KERIS

Kamis, 03 Juli 2014



                    Apabila ada seseorang yang mempunyai sebilah keris, setiap waktu tertentu ia membuatkan sesaji dan membakarkan kemenyan seraya memohon, “wahai kerisku, berikanlah kepadaku rejeki yang melimpah, sandang pangan yang cukup, keberhasilan setiap keinginanku!” Perbuatan tersebut tidak dibenarkan dan sangan disayangkan, karena sebagai makhluk Allah SWT. hendaknya memohon segala sesuatu hanya kepada-Nya. Betapa lemahnya orang itu, karena telah meminta kepada benda mati. Apalagi ada seseorang memiliki sebilah keris dengan tujuan agar setiap hajatnya tercapai, percaya bahwa keris tersebut dapat mendatangkan manfaat dan celaka untuknya. Pemikiran seperti ini hendaknya kita buang jauh-jauh dari pikiran kita sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
                    Hal seperti inilah yang merusak pemahaman masyarakat awam, bahwa apabila kita membicarakan masalah keris pasti yang muncul dibenak kita adalah klenik, mistis, takhayul, dll. Padahal dalam sebilah keris tersebut apabila kita amati secara mendalam, terdapat pancaran keindahan sebuah karya manusia yang tidak dapat ditemukan pada benda seni lainnya. Keris sebagai karya seorang empu (pembuat keris) merupakan seni tempa, seni ukir dan seni hias sebilah campuran besi pilihan. Apa kiranya yang dinamakan teknologi, mungkin tidak hanya dijaman modern ini timbul. Tetapi pada jaman kuno telah mengenal teknologi yang bahkan saat ini sulit untuk ditiru, dalam hal ini mengenai pembuatan sebilah keris. Nenek moyang kita memiliki cita rasa dalam membuat sebilah pusaka, dedikasinya tidak diragukan lagi, menggarap dengan sepenuh hati, sehingga banyak keris-keris yang lahir dari tangan seorang empu yang keindahannya tidak tertandingi. Ada anggapan bahwa buah karya tersebut merupakan gambaran pikiran dari si pembuat itu, ilham tersebut dituangkan lewat ukiran sebilah besi. Maka keris itu merupakan benda multi dimensi, dalam pembuatannya memiliki dua nilai berbeda. Pertama merupakan wujud harapan atau angan-angan yang ditujukan kepada Tuhan yaitu secara batin, dan kedua merupakan benda yang dapat dinikmati keindahannya ialah secara lahir.

0 komentar:

Posting Komentar

Kategori

Diberdayakan oleh Blogger.