1. Makna Keris secara Etimologi
Secara etimologi Keris
memiliki banyak nama lain yang mempunyai makna masing-masing yang berbeda,
tetapi saling keterkaitan. Keris disebut “wangkingan” artinya tempatnya dibelakang, Keris adalah pelengkap
busana pria yang dipakainya di sebelah belakang pinggang. Keris disebut “curiga” artinya
rahasia, Keris juga diartikan sebagai rahasia yang harus disimpan. Sebagai
orang tua yaitu tua sikap dan jalan pikirnya (kedewasaan berpikir), bukan hanya
tua umurnya, manusia seharusnya mengerti rahasia kehidupan dengan jalan belajar
ilmu sejati atau ilmu kebatinan. Keris dalam bahasa halus atau krama inggil disebut “ dhuwung”
artinya lumayan. Keris disebut sebagai “piyandel” memiliki arti bahwa Tosan Aji atau senjata pusaka seperti
Keris dan lain-lain itu bisa
menimbulkan rasa keberanian yang luar biasa, dan penambah kepercayaan diri, kepada pemilik atau
pembawanya. Bahkan
keris pusaka diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu mengandung
kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu.
Sedangkan Keris sendiri bermakna bahwa Keris itu tajam ujungnya, ini melambangkan ketajaman pikir.
Adalah sangat penting seseorang mempunyai pikiran yang tajam dengan wawasan
yang luas.
2. Makna
Keris secara Kegunaannya
Walaupun oleh sebagian
peneliti dan penulis bangsa Barat Keris digolongkan sebagai jenis senjata
tikam, sebenarnya keris dibuat bukan semata-mata untuk membunuh. Keris lebih
bersifat sebagai senjata dalam pengertian simbolik, senjata dalam artian
spiritual. Untuk “sipat kandel” kata
orang Jawa. Karenanya oleh sebagian orang keris juga dianggap memiliki kekuatan
gaib. Dimasa lalu setiap pria Jawa terutama
bangsawan dan priyayi pada saat menjalankan tugasnya sehari-hari, selalu
mengenakan busana tradisional lengkap dengan sebilah keris dipinggangnya.
Setiap priyayi paling tidak memiliki dua buah. Satu untuk dipakai harian,
sedangkan yang lain untuk upacara resmi dan upacara di karaton. Tentu saja keris
yang kedua mempunyai kualitas dan penampilan yang lebih bagus. Di jaman kuno,
keris dipergunakan sebagai senjata untuk berperang ataupun untuk bertarung satu
lawan satu. Pada jaman kerajaan telah menjadi suatu kewenangan seorang raja
untuk memberikan keris kepada setiap pengabdian seorang abdi, ini bertujuan
sebagai lambing tanggungjawab dan kepercayaan seorang pemimpin. Para abdi dalem
biasanya memiliki dua buah jenis warangka keris, yaitu apa yang disebut
warangka ladrang dan warangka gayaman. Pada umumnya para abdi dalem hanya
memiliki sebuah bilah keris saja, tetapi dibuatkan dua buah warangka atau
sarung. Dalam bahasa lokal disebut “keris diwayuh”, atau keris yang dicarikan
dua warangka sekaligus. Kebiasaan ini muncul karena dalam setiap kegiatan
keseharian membutuhkan fungsi keris yang berbeda-beda, yaitu keris dapat
menunjukkan keadaan seorang pemakai. Apakah ia sedang bertugas untuk Negara,
atau sedang menghadiri sebuah pesta.
Memang ada keris-keris
yang benar-benar digunakan untuk membunuh orang, misalnya keris yang pada zaman
dulu dipakai oleh algojo Karaton guna melaksanakan hukuman bagi terpidana mati.
Begitu pula keris-keris yang dibuat untuk prajurit rendahan. Namun kegunaan
keris sebagai alat pembunuh ini pun sifatnya seremonial dan khusus, misalnya
Kanjeng Kyai Balabar milik Pangeran Puger. Pada abad ke-18 keris ber “dapur”
atau motif Pasopati itu digunakan oleh Sunan Amangkurat Amral untuk menghukum
mati Trunojoyo di Alun-alun Kartasura.
Keris
adalah benda seni yang meliputi seni tempa, seni ukir, seni pahat, seni bentuk,
serta seni perlambang. Pembuatannya selalu disertai doa-doa tertentu, berbagai
harapan, serta upacara khusus. Doa pertama seorang “Empu” (ahli pembuat keris)
ketika akan mulai menempa keris adalah memohon kepada Tuhan Yang MahaEsa, agar
keris buatannya tidak akan mencelakakan pemiliknya maupun orang lain. Doa-doa
itu juga diikuti dengan tapa brata dan lelaku, antara lain tidak tidur, tidak
makan, tidak menyentuh lawan jenis pada saat-saat tertentu.
Pada saat ini fungsi keris adalah
untuk pelengkap busana tradisional. Namun demikian, keris tetap dihargai,
diperlakukan dengan baik. Orang tradisional menghargai keris sebagai pusaka
yang berharga dan barang seni yang bernilai tinggi. Keris dinilai berkualitas tinggi
jika memenuhi seluruh atau beberapa kriteria tertentu yaitu memiliki “Tangguh”
atau periode pembuatan yang jelas, memiliki daya spiritual yang bagus, dan penampilan
fisik yang anggun, serta tidak cacat secara fisik.

0 komentar:
Posting Komentar