Maknawi Sebilah Keris

Kamis, 03 Juli 2014



Keris Lurus Dapur Pasopati

1.   Makna Keris secara Etimologi
                    Secara etimologi Keris memiliki banyak nama lain yang mempunyai makna masing-masing yang berbeda, tetapi saling keterkaitan. Keris disebut wangkingan” artinya tempatnya dibelakang, Keris adalah pelengkap busana pria yang dipakainya di sebelah belakang pinggang. Keris disebut “curiga” artinya rahasia, Keris juga diartikan sebagai rahasia yang harus disimpan. Sebagai orang tua yaitu tua sikap dan jalan pikirnya (kedewasaan berpikir), bukan hanya tua umurnya, manusia seharusnya mengerti rahasia kehidupan dengan jalan belajar ilmu sejati atau ilmu kebatinan. Keris dalam bahasa halus atau krama inggil disebut “ dhuwung” artinya lumayan. Keris disebut sebagai “piyandel” memiliki arti bahwa Tosan Aji atau senjata pusaka seperti Keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang luar biasa, dan penambah kepercayaan diri, kepada pemilik atau pembawanya. Bahkan keris pusaka diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu mengandung kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu. Sedangkan Keris sendiri bermakna bahwa Keris itu tajam ujungnya, ini melambangkan ketajaman pikir. Adalah sangat penting seseorang mempunyai pikiran yang tajam dengan wawasan yang luas.
2.   Makna Keris secara Kegunaannya
                    Walaupun oleh sebagian peneliti dan penulis bangsa Barat Keris digolongkan sebagai jenis senjata tikam, sebenarnya keris dibuat bukan semata-mata untuk membunuh. Keris lebih bersifat sebagai senjata dalam pengertian simbolik, senjata dalam artian spiritual. Untuk “sipat kandel” kata orang Jawa. Karenanya oleh sebagian orang keris juga dianggap memiliki kekuatan gaib. Dimasa lalu setiap pria Jawa terutama bangsawan dan priyayi pada saat menjalankan tugasnya sehari-hari, selalu mengenakan busana tradisional lengkap dengan sebilah keris dipinggangnya. Setiap priyayi paling tidak memiliki dua buah. Satu untuk dipakai harian, sedangkan yang lain untuk upacara resmi dan upacara di karaton. Tentu saja keris yang kedua mempunyai kualitas dan penampilan yang lebih bagus. Di jaman kuno, keris dipergunakan sebagai senjata untuk berperang ataupun untuk bertarung satu lawan satu. Pada jaman kerajaan telah menjadi suatu kewenangan seorang raja untuk memberikan keris kepada setiap pengabdian seorang abdi, ini bertujuan sebagai lambing tanggungjawab dan kepercayaan seorang pemimpin. Para abdi dalem biasanya memiliki dua buah jenis warangka keris, yaitu apa yang disebut warangka ladrang dan warangka gayaman. Pada umumnya para abdi dalem hanya memiliki sebuah bilah keris saja, tetapi dibuatkan dua buah warangka atau sarung. Dalam bahasa lokal disebut “keris diwayuh”, atau keris yang dicarikan dua warangka sekaligus. Kebiasaan ini muncul karena dalam setiap kegiatan keseharian membutuhkan fungsi keris yang berbeda-beda, yaitu keris dapat menunjukkan keadaan seorang pemakai. Apakah ia sedang bertugas untuk Negara, atau sedang menghadiri sebuah pesta.  
                    Memang ada keris-keris yang benar-benar digunakan untuk membunuh orang, misalnya keris yang pada zaman dulu dipakai oleh algojo Karaton guna melaksanakan hukuman bagi terpidana mati. Begitu pula keris-keris yang dibuat untuk prajurit rendahan. Namun kegunaan keris sebagai alat pembunuh ini pun sifatnya seremonial dan khusus, misalnya Kanjeng Kyai Balabar milik Pangeran Puger. Pada abad ke-18 keris ber “dapur” atau motif Pasopati itu digunakan oleh Sunan Amangkurat Amral untuk menghukum mati Trunojoyo di Alun-alun Kartasura.
                    Keris adalah benda seni yang meliputi seni tempa, seni ukir, seni pahat, seni bentuk, serta seni perlambang. Pembuatannya selalu disertai doa-doa tertentu, berbagai harapan, serta upacara khusus. Doa pertama seorang “Empu” (ahli pembuat keris) ketika akan mulai menempa keris adalah memohon kepada Tuhan Yang MahaEsa, agar keris buatannya tidak akan mencelakakan pemiliknya maupun orang lain. Doa-doa itu juga diikuti dengan tapa brata dan lelaku, antara lain tidak tidur, tidak makan, tidak menyentuh lawan jenis pada saat-saat tertentu.
                    Pada saat ini fungsi keris adalah untuk pelengkap busana tradisional. Namun demikian, keris tetap dihargai, diperlakukan dengan baik. Orang tradisional menghargai keris sebagai pusaka yang berharga dan barang seni yang bernilai tinggi. Keris dinilai berkualitas tinggi jika memenuhi seluruh atau beberapa kriteria tertentu yaitu memiliki “Tangguh” atau periode pembuatan yang jelas, memiliki daya spiritual yang bagus, dan penampilan fisik yang anggun, serta tidak cacat secara fisik.

0 komentar:

Posting Komentar

Kategori

Diberdayakan oleh Blogger.